Blog

18 Mei 2017

Seekor Monyet pun Sanggup Menjadi Hakim yang Adil

Khamr tidak diharamkan pada permulaan Islam. Kemudian mulailah situasi yang buruk akibat berlebihan mengonsumsi minuman keras sehingga Allah mengharamkannya secara mutlak, “Hai orang-orang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” Para sahabat kemudian berkata, “Kami menyudahi minum khamr, ya Tuhan. Kami menyudahinya.”

Barangkali khamr tidak diharamkan pada umat-umat zaman dahulu. Seorang lelaki berpergian menyusuri sungai dengan perahunya. Dia singgah dari sebuah perkampungan ke perkampungan lain. Dia menawarkan dan menjual arak kepada orang lain. Dia penipu. Biasanya dia mencampur arak dengan air agar jualannya semakin banyak dan keuntungannya melimpah. Mereka mengira cara itu akan mendatangkan banyak laba. Mereka mencampuradukkan barang halal dengan haram. Atau, mencampur barang yang jenisnya hampir sama supaya memperoleh banyak laba meskipun caranya tidak sesuai dengan syariat. Mereka merugikan orang lain dengan cara tidak benar.

Lelaki itu menjual arak yang dicampur dengan air. Kemudian menaruh uang hasil jualan di sakunya. Dia mengemudikan perahunya pulang ke rumahnya. Jiwanya bergembira. Harapannya untuk mengumpulkan banyak harta terkabulkan. Saat terbuai dalam mimpinya, seekor monyet di sampingnya loncat sana-sini. Monyet itu mengambil kantong uangnya. Sambil membawa kantong berisi uang itu, si monyet memanjat ke atas tiang kapal. Hati pedagang itu cemas mengharapkan uangnya kembali. Tapi, monyet itu malah melemparkan kantong uang itu ke air. Sungguh hasil dagangan yang meremukkan jiwa pedagang itu. Mimpi-mimpinya hancur seketika. Sebagian uangnya tenggelam di air, sebagian lain jatuh di sela-sela papan kapal.

Hai monyet… hai monyet…. Demi Tuhan, turunlah! Ketika monyet itu tidak mau turun, dia berteriak, “Lemparkan kantong itu pelan-pelan! Jangan kamu binasakan hartaku!”

Monyet itu tidak memahami permohonan si pedagang. Ia bahkan duduk di atas tiang kapal. Ia membuka tali kantong itu lalu melihat isinya. Ia mengeluarkan uang itu, membolak-baliknya seolah-olah ia meneliti keasliannya, kemudian melemparkannya ke bawah. Uang itu jatuh di atas kapal. Pedagang itu terkejut. Dia mengangkat kepala dan menoleh ke arah monyet sambil meloncat dengan sekuat tenaga. Monyet itu memasukkan tangannya ke kantong, mengeluarkan uang, dan membolak-balikkan uang itu. Si pedagang pun siap-siap menangkapnya. Tiada usaha lain selain itu. Ia tinggalkan kemudi perahu sehingga kosong tanpa kemudi demi menangkap uang.

Betapa celakanya si pedagang. Monyet itu melemparkan uangnya ke dalam air yang disapu ombak. Si pedagang memandang ke arah tiang kapal sambil marah-marah. Dia menatap dan memohon secara terang-terangan kepada monyet itu. Tapi kali ini dia berkata tanpa berteriak. Bibirnya terasa terkunci. Monyet itu lantas melemparkan uang kepadanya. Cepat-cepat dia memungutnya. Lalu monyet itu melemparkan uang yang keempat ke dalam air. Betapa celakanya. Dia tak sanggup berdiri, jatuh terjerembab. Hanya air matanya yang meratapi ulah si monyet.
Tangan monyet itu semakin cekatan dan terus membagi-bagikan uang dengan adil. Ia melemparkan uang itu di atas kapal dan melemparkannya pula ke dalam air. Akhirnya kantong itu kosong. Monyet itu lantas turun. Pedagang itu mengambil bagiannya dari harga arak dan sungai mengambil bagiannya dari harga air yang dicampur arak.
Bukankah ini pembagian yang benar? Seekor monyet pun sanggup menjadi hakim yang adil dan mengeluarkan keputusan yang bijak.

Pedagang itu merasakan kesedihan dan kesusahan saat hidup di dunia. Kelak di akhirat dia mendapat balasan neraka yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka. Ini terjadi bila dia tidak bertobat dan tidak bertakwa kepada Allah. Jika bertobat dan bertakwa, Allah pasti mengampuninya. Inilah salah satu cerita meinginspirasi dari Nabi seperti yang dikutip dalam Musnad Imam Ahmad, juz 2 hal. 306.
Lebih dari 40 kisah lainnya dari Rasulullah dihimpun dalam buku ini—dari kisah seru umat masa lalu hingga kisah misteri alam gaib dan bocoran tentang masa depan manusia pasca kematian. Selain melipur sekaligus dapat pahala, membaca cerita-cerita dari Nabi sungguh dapat mencerahkan hati dan menginspirasi untuk berbenah. Pesan-pesannya melampaui ruang dan waktu—menembus kalbu dan dapat menebus rindu pada Sang Pemandu manusia sepanjang waktu.

Tak Berkategori
About Penerbit Qalam

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *